Selasa, 04 Oktober 2011

P3M (CTL)


CTL memang memiliki karakteristik tersendiri baik terlihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional hal ni sering yterlupakan, sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksa kehendak, yang menurut Paulo Freire (sanjaya, 2005::116-117) sebagai system penindasan.

Sehubung dengan hal itu terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL yakni:
1.      Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang, anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melaikan organism yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan. Kemempuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Guru berperan bukan sebagai istruktur atau penguasa yang memaksakan kehendak, melaikan sepagai pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkebangan.
2.      Setiap anak memiliki kecenderungan untk belajar hal-hal yang baru dan memecahkan setiap persoalan yang menantang.guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajat=r yang dianggap penting untuk dipelajari siswa.
3.      Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal ynag sudah diketahui. Dengan demikian peranann guru adalah membantu agar siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
4.      Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada(asimilasi) atau proses proses pembentukan skema baru(akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.

CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 (tujuh) asas. Asas asas ini yang melandasi pelaksanan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Komponen tersebut antara lain konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi, penilaian nyata.

1.      Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut  pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab  itu pengetahuan terbentuk adri dua factor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua factor itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis, akan tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengonstruksikannya.
2.      Inkuiri
Ingkuiri artinya adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penenemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Penegtahuan bukan lah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam prosses perencanaan, guru bukan lah mempersiapakan materi yang harus dihapal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan dan membuat kesimpulan. Penerapan asas ini dalam pembelajaraan CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang ingin dipecahkan, selanjutnya siswa didorong untuk menemukan masalah, mengajukan hipotesis dan jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis  akan menuntun siswa melakukan observasi dalm mengumpulkan data yang berfungsi untuk merumuskan kesimpulan.
3.      Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Brtanya dapat dipandang sebagai refleksi keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalm berfikir.Dalam pembelajaran CTL, guru memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Melalui pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajari.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk : (1) menggali informasi tentang kemampuan siswa; (2) membangkitkan motivasi siwa untuk belajar; (3) merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu; (4) mempokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan; (5) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
4.      Masyarakat belajar
Dalam CLT, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya besifat heterog, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan, yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.
5.      Pemodelan (modeling)
Maksudnya adalah proses pembelajaran dengan menggunakan sesuatu contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasionalkan sebuah alat , atau bagaimana  cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi contoh bagaimana cara memaikan alat music dls. Proses modeling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Modeling merupakan asas u=yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang memungkinkan terjadinya verbalisme.
6.      Refleksi (reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bias terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbaharui pengetahuan yang telah dibentuknya atau menambah khazana pengetahuannya.
Dalam setiap proses pembelajaran CTL, setiap akhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingait kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkanlah secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapa menyimpulkan pengalaman belajarnya.
7.      Penilaian Nyata (autentik Assesmen)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman bbelajar siswa memilki pengaru positifterhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
Penilaian autentik dilakukan secara terintegrasi dalam proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu tekanan diarahkan kepada proses belajar bukan hasil belajar.

C. Pembelajaran Interktif
Kegiatan belajar melibatkan beberapa komponen atau unsure yaitu peserta didik, pendidik atau guru, tujuan pelajaran, isi pelajaran, metode mengajar yang digunakan, media pembelajaran yangs esuai, dan evaluasi kemajuan siswa menggunakan tes yang standar. Semua komponen ini saling berinterksi dalam proses pembelajaran  yang berakhir pada tujuan pembelajaran. Dilihat dari institusi sekolah , dalam mendukung kelancaran aktivitas pembelajran, kepala sekolah mempunyai peranan cukup penting yaitu menyediakan fasilitas pembelajran, melakukan pembinaan  pertumbuhan jabatan guru, dan dukungan professional lainnya. Setelah guru mendapatkan dukungan professional, hal selanjutnya yang perlu dipersiapkan oleh seorang guru adalah berkaitan dengan  pendekatan pembelajaran  yang menjadi otonom professional keguruan. Pendekatan ini pada umumnya mengacu pada pendekatan psikologi yang berkaitan dengan kemampuan peserta didik untuk menangkap atau menerima pelajaran dalam kegiatan pembelajaran.
Pendekatan belajar(approach to learning) dan strategi atau kiat melaksanakan pendekatan atau metode belajar dalam proses pembbelajaran termasuk factor yang turut  menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Pendekatan pembelajaran tentu tidak kaku harus menggunakan pendekatan tertentu, tetapi sifatnya lugas dan terancana, artinya memilih poendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran.
Pedekatan pembelajaran Interaktif yang sudah umum dipakai oleh para guru menurut Sagala (2003:71) yaitu:
a.       Penedekatan konsep, adalah suatu pendekatn pembelajaran ynag secar langsung menyajikan konsep tanpa member kesempatan pada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh
b.      Pendekatan proses, adalah suatu pendekatan pembelajaran yang member kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pendekatan ini dilatarbelakangi oleh konsep belajar menurut teoro “Naturalisme-Romantis” dan “Kognitif Gestalt”. Naturalosme-Romantis menekannkan pada aktifitas siswa, sedangkan Kognitif Gestalt menekankan kepada pemahaman dan keterpaduan yang menyeluruh.
Dalam pembelajaran proses ini, siswa tidak hanya belajar dari guru, tapi juga dari sesame teman-temannya, dan dari manusia sumber di luar sekolah. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa dari pembelajaran yang menggunakan pendekatan proses adalah: (1) mengamati gejala yang timbul; (2) mengklasifikasi sifat-sifat yang sama, serupa; (3) mengukur besaran-besaran yang serupa; (4) mencari hubungan antara konsep yang serupa; (5) mengenal adanya suatu masalah, merumuskan masalah; (6) memperkirakan penyebab suatu gejala; (7) meramalkan gejala ynag mungkin terjadi; (8) berlatih menggunakan alat ukur; (9) melakukan percobaan; (10) mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data; (11) berkomunikasi; dan (12) mengenal adanya variable, mengendalikan suatu variable.
c.       Pendekatan Deduktif, adalah proses penalaran yang bermula dari keadaan umum kekeadaan khusus sebagai pendekatan pengajran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti contoh khusus atau penerapan aturan, perinsip umum itu kedalam keadaan khusus.
Langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan deduktif dalam pembelajaran adalah; (1) memilih konsep, prinsip, aturan yang aan disajikan; (2) menyajikan aturan, perinsip yang bersifat umum lengkap dengan defenisi dan bukti; (3) disajikan contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus itu dengan aturan, prinsip umum; dan (4) disajikan bukti untuk menunjuk atau menolak kesimpulan bahwa keadaan khusus itu merupakan gambaran dari keadaan umum.
d.      Pendekatan Induktif, adalah pendekatan yang dikemukakan oleh filosofis Inggris Perancis Bacon (1516) yang menghendaki agar penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta yang kongkrit sebanyak mungkin, system ini dipandang sebagai system berfikir yang paling baik pada abat pertengahan. Berfikir induktif adalah suatu proses yang berlangsung dari khusus menuju ke umum.
Langkah yang dapat dingunakan dalam pendekatan deduktif adalah: (1) memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan induktif; (2) menyajikan contoh khusus konsep, prinsip atau aturan itu yang memungkinkan siswa memperkirakan (hipotesis) sifat umum yang terkandung dalam contoh itu; (3) disajikan bukti yang berupa contoh tambahan untuk menunjang atau menyangkal perkiraan itu; dan (4) disusun pernyataan mengenai sifat umum yang telah terbukti berdasarkan langkah-langkah yang terdahulu.
e.       Pendekatan Ekspositori, berpandangan bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru/pengajar. Hakekat mengajar menurut pandangan ini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apasaja yang diberikan guru.guru menyampaikan informasi mengenai pelajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan yang dikenal dengan istilah kuliah, ceramah dan lacture. Siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingan informasi yang telah disampaikan guru.
f.       Pendekatan Heuristik adalah merancang pembelajaran dari berbagai aspek dari pembentukan system instruksional mengarah pada pengaktifan peserta didik mencari dan menemukan sendiri fakta, prinsip, dan konsep yang mereka butuhkan. Pendekatan ini menyajikan sejumlah data dan siswa diminta untuk membuat kesimpulan menggunakan data tersebut, implementasinya dalam pengajar menggunakan metode penemuan dan metode inkuiri. Dengan pendekatan heuristik dapat mendorong peserta didik bersikap berani untuk berfikir ilmiah dan mengembangkan berfikir mandiri.
g.      Pendekatan kecerdasan, guru harus mengetahui kecerdasan siswa agar dapat menolong kesulitan belajarnyauntuk membantu mengetahuinya dapat dilakukan oleh konselor yang mempunyai latar belakang pendidikan dan keahlian yng memadai. Munzert, A.W (1994) mengartikan kecerdasan sebagai sikap intelektual mencakup kecepatan memberikan jawaban, penyelesaian, dan kemempuan menyelesaikan masalah.
h.      Intelegensi dapat dirumuskan dengan kemampuan untuk melakukan kegiatan dan mencapai prestasi yang didalamnya brefikir memaikan peranan utama.walaupun untuk memperoleh informasi yang lebih dapat dipercaya melalui tes kecerdasan melalui uji psikotes oleh ahli psikologi. Tingkah laku yang inteligen memiliki cirri sebagai berikut: (1) tingkah laku yang siap melakukan perubahan yang perlu terhadap kondisi baru, tidak kaku; (2) tingkah laku yang bertujuan; (3) tingkah laku yang cepat, reaksi yang segera; (4) tingkah laku yang terorganisir, yakni ada koordinasi yang baik antara kondisi pribadi dalam lingkungan yang memecahkan persoalan; (5) tingkah laku yang dikendalikan oleh motivasi yang kuat: dan (6) tingkah laku yang success oriented.

D. Kesimpulan
 Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut diatas maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:
1.      Pembelajaran kontekstual merupakan beberapa pembelajaran yang menekankan pada ketertarikan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasa pentingnya belajar, dan akan memperoleh magna yang mendalam terhadap apa ynag dipelajari.
2.      Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan.
3.      Pembelajaran interaktif, guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedadogis, psikologis, dan dedaktis secara bersamaan. Caranya dengan guru menggunakan pendekatan pemberian pemahaman kepada siswa, pemberian informasi dan pendekatan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi oleh siswa.

       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar